Teror dan Ancaman Pembunuhan Dialami Aktivis Pospera Bali

Selasa, 06 September 2016 : 20.55
(ilustrasi/kabarnusa)
 JAKARTA - Ancaman pembunuhan dan teror lainnya dialami aktivis Posko Perjuangan Rakyat (Pospera) Bali yang diduga dilakukan sekelompok orang baik lewat media sosial maupun secara langsung.

Terkait kondisi psikologis yang membahayakan itu, DPP Pospera kembali mendatangi Mabes Polri untuk melaporkan atas peristiwa yang dialami aktivis Pospera dan keluarganya di Bali.

"Hari ini DPP Pospera juga membuat laporan baru, terkait pengancaman dan teror yang dilakukan sekelompok orang, terhadap aktivis Pospera di Bali," kata Sekjen DPP Pospera Abd Rahim K Labungasa dalam siaran pers diterima Kabarnusa.com Selasa (6/9/2016).

Kedatangan DPP Pospera juga untuk menambahkan bukti bukti penyebaran kebencian SARA dari cuitan twit akun @gendovara.

Pelaporan awal, terkait ujaran kebencian SARA, sudah ditindaklanjuti kepolisian dengan memeriksa kedua kalinya pelapor dalam hal ini Sekjen Pospera pada tanggal 26 Agustus 2016 atau sekitar 11 hari setelah pelaporan.

Dijelaskan Labungasa, bentuk bentuk ancaman dan teror dilakukan melalui media sosial maupun secara fisik dengan mendatangi secara beramai ramai rumah keluarga aktivis Pospera di Bali.

"Bahkan, ada akun yang memuat foto anak dan isteri aktivis Pospera disertai kalimat mengancam," tandasnya.

Diperkirakan, ada sekitar 20 akun Sosmed yang dilaporkan, dengan isi ancaman mulai ancaman pembunuhan, pembakaran, penganiayaan, dan pengusiran.

Selain itu, dilaporkan atas penyebaran secara masif berbagai ujaran kebencian.

Hal yang dilaporkan tersebut, menurut penyidik masuk dalam pasal 27 terkait penghinaan, ujaran kebencian, pasal 28 penyebaran isu SARA, serta pasal 29 Undang Undang ITE terkait ujaran kebencian, penyebaran ancaman dan teror.

Selama lima jam, pengurus DPP Pospera memberikan laporan dan pemeriksaan bukti bukti awal yang berlangsung di Mabes Polri.

Laporan diterima di Divisi Cyber Crime Bareskrim Mabes Polri dengan nomor laporan : TBL/641/IX/2016/Bareskrim.

"Kami, DPP Pospera mengecam segala bentuk teror untuk tujuan apapun dan melalui cara apapun. Teror adalah cara cara yang anti Demokrasi dan anti kemanusiaan yang tidak bisa di tolerir," demikian Labungasa. (rhm)

Berita Terbaru

Komentar Anda

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi