Ribuan Wisatawan Nikmati Festival Gandrung Sewu Banyuwangi

Minggu, 18 September 2016 : 09.03
BANYUWANGI- Ribuan wisatawan asing dan domestik serta masyarakat lainnya terpukau saat menikmati Festival Gandrung Sewu yang digelar di Pantai Boom, Banyuwangi, Sabtu (17/9).

Sebanyak 1.300 penari Gandrung beraksi memainkan koreografi yang apik di bibir pantai dengan latar belakang Selat Bali dan semburat cahaya matahari tenggelam.

Ajang Festival Gandrung Sewu telah memasuki tahun kelima dan kini telah menjadi pariwisata event (event tourism) berkelas nasional.

"Setiap tahun, kami sajikan atraksi yang fantastis dan selalu baru menjadi bukti sahih akan kemegahan Festival Gandrung Sewu," ujar Plt Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banyuwangi Yanuar Bramuda dilansir dalam laman banyuwangikab.go.id.

Festival Gandrung Sewu tahun ini menyajikan diorama "Seblang Lukinta". Tema merupakan skuel lanjutan dari Gandrung Sewu tahun sebelumnya yang bercerita tentang perjuangan Kerajaan Blambangan (cikal-bakal Banyuwangi) melawan penjajah.

Para penari instrumen kipasnya melingkari arena pertunjukan. Membentuk formasi berjajar, sebagian lagi melingkar, dan terus bergerak dalam derap tari yang rancak namun tetap berasa kelembutannya.

Kipas putih dan merah beralih seiring tabuh gamelan dan angklung. Suara sinden yang menyanyikan lagu-lagu khas gandrung menjadi narasi cerita.

Setiap adegan demi adegan berpaut menjadi pertunjukan yang tiada duanya. Seluruh atraksi itu akhirnya mampu mengundang decak kagum penontonnya. Tak ketinggalan Marleen, wisatawan asal Jerman.

"It's very beautiful festival. I've never seen like this before.

It is great when thousands people dancing together. Awesome," puji Marleen yang sedang berlibur ke Banyuwangi.

Wisatawan asal Malang bernama Rosyid  juga puas dengan aksi di Festival Gandrung Sewu.

"Rasanya merinding melihat ribuan penari di bibir pantai pas jelang matahari tenggelam," kata dia.

Pertunjukan yang menjadi bagian dari Banyuwangi Festival itu, menurut Bupati Banyuwangi Abdulah Azwar Anas, tak sebatas pagelaran.

“Ini adalah konsolidasi budaya,” tegas Anas yang menyempatkan diri untuk menyapa para penari dan ribuan penonton Gandrung Sewu dari layanan face time, karena baru saja mendarat di Jakarta seusai menunaikan ibadah haji.

Konsolidasi budaya, dimaksud bagaimana mendorong pelestarian seni-budaya yang sempat terkesampingkan menjadi seni-budaya yang membanggakan semuanya.

"Saya yakin Banyuwangi tidak kesulitan meregenerasi para pelaku seninya. Festival Gandrung Sewu membuktikan itu. Ribuan anak dari seluruh Banyuwangi giat berlatih didukung orang tua dan para warga desanya.

Ini partisipasi publik dalam mengembangkan seni-budaya dalam balutan pariwisata. Aspek seni-budayanya diraih, aspek ekonominya juga didapat melalui pariwisata," tutup Anas. (des)
Berita Terbaru

Komentar Anda

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi