Ribuan Pamedek Sembahyang ke Pura Dalem Kahyangan Kedaton

Selasa, 27 September 2016 : 17.49
TABANAN- Pujawali di Pura Dalem Kahyangan Kedaton, Desa Pakraman Kukuh, Kecamatan Marga Tabanan Bali pada Anggara Kliwon Medangsia dihadiri ribuan umat Selasa (27/9/2016)..

Tradisi mapeed prani dan ngerebeg  dimulai pukul 13.00 Wita diawali kelompok PKK Banjar Adat Menalun dan PKK Banjar Adat Lodalang yang lokasinya paling dekat dengan Pura Dalem Kahyangan Kedaton.

Ada 12 banjar adat menjadi peserta mapeed prani namun hanya lima banjar adat yang mapeed sekaligus ngiring Ida Bhatara Patapakan Barong Ket dan Barong Landung. Ada pun kelima banjar adat itu masing-masing Banjar Adat Lodalang, Banjar Adat Tengah, Banjar Adat Munggal, Banjar Adat Batanwani, dan Banjar Adat Tegal.

Bendesa Adat Kukuh, I Gede Subawa menerangkan, H-1 pujawali atau pada Soma Wage Medangsi, Senin (26/9) ada upacara pawintenan pamangku.

I Gede Pindah dari Banjar Munggal menerangkan maeka jati sebagai pamangku menggantikan ibu kandungnya yang telah almarhum.

Pamangku di Pura Dalem Kahyangan Kedaton dan pura lainnya di Desa Pakraman Kukuh berdasarkan garis keturunan. Mereka yang kapingit (dipilih secara niskala) secara sukarela ngayah menjadi pamangku.

Selain mapeed, tradisi ngerebeg menjadi paling dinanti anak-anak hingga orangtua. Ngerebeg merupakan ritual berlari keliling pura sebanyak tiga kali dengan membawa tombak, bandrang, umbul-umbul, tedung, dan lelontek.

Sementara peserta anak-anak berlari membawa ranting kayu. Menurut Bendesa Adat Kukuh, I Gede Subawa, ngerebeg bermakna gereget, suka cita karena seluruh rangkaian upacara berjalan dengan lancar.

Saat ngerebeg, patapakan barong ket dan barong landung dari 5 banjar pakraman tedun dari balai peparuman untuk menyaksikan krama ngayah berlari sorak sorai.

Para peserta ngerebeg tak berani berlari sebelum pamangku pura memercikkan tirta sebagai tanda aba-aba. Pamangku yang bertugas standby membawa bumbung berisi tirta untuk dipercikkan kepada peserta setiba di jaba tengah pura.

Pujawali di Pura Dalem Kahyangan Kedaton selesai saat sandikala, sekitar pukul 18.20 Wita. Krama pangempon menghindari upacara selesai malam karena ada pantangan menyalakan api sebagai penerangan. Sehingga saat sembahyang pun, pamedek berpantang pakai dupa, termasuk tanpa kwangen.

Keunikan yang bisa dilihat secara langsung yakni pujawali tanpa penjor seperti piodalan umumnya di Bali. Sementara tamiang tak terbuat dari janur tetapi dari daun pisang emas. (gus)
Berita Terbaru

Komentar Anda

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi