Kembangkan Daya Tarik Pariwisata RI Lewat Strategi Pemasaran yang Tepat

Jumat, 02 September 2016 : 08.45
Agung Suryawan (foto:Kabarnusa)
DENPASAR - Indonesia memiliki potensi dan daya tarik pariwisata cukup banyak yang perlu dipromosikan untuk menjaring banyak tamu dengan strartegi pemasaran yang tepat.

Menurut akademisi Universitas Udayana (Unud) dan pengamat pariwisata Agung Suryawan, Bali atau daerah tujuan wisata lainnya di Tanah Air sejatinya sudah memiliki banyak daya tarik, yang bisa dipromosikan sampai ke luar negeri.

"Kita sudah punya daya tarik pariwisata namun dirasa masih kurang promosi," kata Agung disela Konferensi Internasional Mempromosikan Budaya dan Pariwisata Warisan Budaya yang digelar Unud di Denpasar, Kamis 1 September 2016.

Tentunya, sebelum memulai melakukan promosi, pemasaran harus diketahui negara-negara mana daerah mana, juga bagaimana perilaku, karakteristik pasarnya seperti apa.

Pendek kata, dengan strategi pemasaran yang tepat, kata Agung maka hal itu akan berdampak positif bagi perkembangan pariwisata di suatu daerah.

Karena itulah, lewat forum internasional ini, bagaimana bisa mengembangkan daya tarik pariwisata dan budaya di Indonesia agar lebih dikenal.

Sebanyak 90 paper dari masing-masing daerah dengan ciri khas masing-masing ditambah pembicara tamu selama dua hari, akan melakukan konferensi dengan sistem paralel.

Mereka banyak menyajikan, paper daerahnya seperti dari Bali, banyak mengakat potensi budaya di Jatiluwuh, kuliner khas hingga Sanur Village Festival SVF yang baru saja digelar .

Semua bahan-bahan itu dimunculkan, dalam diskusi bersama sesuai dengan tema masing-masing yakni aspek pemasaran, ketelibayan komumitas, destinasi dan aspek budaya culture.

Agung mencontohkan, daya tarik obyek wisata Jatiluwih di Kabupatan Tabanan misalnya, menampilkan bagaimana pengembangan pariwisata yang berbasiskan masyarakat. Pelibatan masyarakat sangatlah penting dalam keberhasilan pembangunan pariwisata.

"Di Jatuluwih itu, bagaimana ketika wisatawan datang, tidak hanya melihat pemandangan, namun bagaimana mereka bisa juga melihat atraksi saat menanam padi hingga panen," katanya mencontohkan.

Bagaimana pengembangan wistaa itu, masyarakat bersama wistaawan terlibat langsung seperti dalam atraksi budaya. Dengan begitu, masyarakat juga akan mendapat dampak positif dari sisi pendapatan dari wisatawan yang datang dan sebaliknya wisatawan bisa merasakan pengalaman dalam atraksi budaya di wilayah tersebut.

Di pihak lain, Kementerian Pariwisata terus mendorng agar pariwisata dapat menjadi wahana revitalisasi atau membangkitkan kembali budaya lokal dengan menyinergikan kedua sektor tersebut.

"Janganlah skeptis pariwisata budaya dengan mendikotomikan pariwisata dan budaya. Justru kita harus mensinergikan kedua sektor yang dianggap bertentangan itu," kata Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Mancanegara Kementerian Pariwisata, I Gde Pitana.

Adanya konferensi internasional ini, diharapkan meluruskan anggapan berbagai kalangan bahwa pariwisata merusak budaya lokal.

Pitana menjelaskan bahwa dari kajian tahun 2014 yang dilakukan Kementerian Pariwisata menyebutkan bahwa 60 persen wisatawan berkunjung karena budaya. (rhm)
Berita Terbaru

Komentar Anda

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi