Kapolri Soroti Aksi Bakar Ban Demo Tolak Reklamasi di Bali

Kamis, 01 September 2016 : 06.35
DENPASAR - Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian sempat menanyakan kepada Kapolda Bali Irjen Pol Sugeng Priyanto perihal aksi bakar ban dalam demo tolak reklamasi di sejumlah titik di Bali.

Hal itu disampaikan saat Kapolda Sugeng menggelar simakrama dengan para tokoh pemerintahan, masyarakat, LSM termasuk Koordinator ForBali Wayan Gendo Suardana di Mapolda Bali Rabu 31 Agustus 2016.

Dalam pengantar diskusinya, Kapolda Sugeng bahkan, memperingatkan massa tolak reklamasi agar jangan lagi membakar ban di jalan saat menggelar aksinya,

Alasannya, aksi bakar ban bisa memuncurlkan keresahan serta citra Bali yang terkesan rusuh dan tidak aman.

"Topik diskusi kita hari ini mencari solusi keamanan wilayah Bali khususnya terkait tolak reklamasi," tandasnya.

Kapolda lantas menyinggung aksi besar-besaran 25 Agsutus lalu, demo tolak reklamasi yang ditandai dengan pembakaran ban di 9 titik.

Kegiatan itu kemudian mendapat perhatian dan disebarkan media sampai ke luar negeri.

Ini juga sudah menjadi perhatian pimpinan tertinggi POlri (Kapolri)," tegas pria kelahiran Purbalingga Jawa Tengah 24 Juli 1961 itu.

Jenderal bintang dua ini mempersilahkan masyarakat menyampaikan aspirasi sesuai format perundang - undangan berlaku.

"Demo tolak reklamasi sudah berjalan selama empat tahun dan baru kali ini ada aksi bakar ban yang terjadi di sembilan titik. Begitu berita naik di media, saya langsung ditelepon Kapolri," ungkapnya.

Dikatakan, kegiatan yang digagas POlda Bali itu merupakan kali kedua, untuk duduk bersama melibatkan banyak pihak mencari solusi terbaik.

"Kapasitas saya adalah menjaga keamanan dan ketertiban wilayah Bali, kalau reklamasi saya tidak ada urusan untuk itu, mau dilaksanakan atau tidak terserah," tegas Kapolda Sugeng lagi.

Dalam kesempatan itu, Kapolda mengajak seluruh masuarakat jangan nodai Bali dengan kekerasan seperti kejadian bentrok ormas tahun lalu. Peristiwa bakar membakar pada saat itu menunjukkan, bahwa Bali itu tidak tertib dan tidak aman.

Kondisi itu, akan mencierai citra Bali sebagai pulau terbaik dan wisata terbaik di dunia.

Kebebasan berpendapat dan menyampaikan aspirasi dilindungi UU namun jangan sampai anarkis karena efeknya meluas sehingga wisata menurun dan perekekonomian Bali juga akan menurun.

"DPRD sudah membuka pintu, silahkan datang dan sampaikan aspirasi. Jadi, jangan bakar ban seperti pada hari Kamis tanggal 25 Agustus kemarin, kesannya Bali rusuh dan tidak aman. Jangan paksakan saya untuk melakukan tindakkan represif," tegas alumnus Akpol 1983 itu.

Dalam kesempatan itu, Koordinator ForBali Wayan "Gendo" Suardana menyampaikan kekecewaannya lantaran DPRD tidak melakukan tindakan apapun bahkan terkesan membiarkan rakyat berjuang sendirian.

Soal aksi bakar ban, dinilai sebagai bentuk kekecewaan lantaran tidak ada wakil rakyat yang menemui ketika berunjuk rasa ke Gedung DPRD Bali.

Di pihak lain, Gendo mengapresiasi simakrama digelar Kapolda Bali yang semestinya digelar pihak DPRD Bali.

Pihaknya telah mengikuti saran Pak Kapolda, supaya tidak demo di jalan tol pada hari minggu. Hanya saja, ketika mereka datang ke DPRD Bali, justru tidak ada yang menemui karena sedang kegiatan kunker. (rhm)

Berita Terbaru

Komentar Anda

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi