Dihimpit Kemiskinan, Ini Perjuangan Siswi Bertangan Buntung

Jumat, 30 September 2016 : 21.38
JEMBRANA- Di tengah kemiskinan yang mendera, Keluarga Kadek Raun (36) dan istrinya Luh Sumerti (32) warga Dusun Palarejo Desa Ekasari Melaya, Jembrana terus berusaha bertahan hidup.

Mereka tinggal di pelosok desa di pinggir bendungan Palasari Melaya. Mencari rumah pasutri yang hidup sangat memprihatinkan ini harus rela menempuh perjalanan jauh dengan kondisi medan yang terjal dan curam.Jalan menuju lokasi juga rusak parah dipenuhi krikil.

Pasangan Raun dan Sumerti memiliki empat orang anak. Putri pertamanya bernama  Ni Luh Mandri (14).

Berasal dari keluarga tidak mampu yang masuk dalam buku merah. kendala tanah yang ditempati merupakan milik PIB (Proyek Irigasi Bali) sehingga belum bisa diusulkan mendapatkan bantuan bedah rumah.

Kepala Dusun Palarejo Desa Ekasari Melaya  keluarga ini menerima raskin. Sedangkan Ni Luh Madri yang kini siswi kelas 3 SMPN 5 Melaya menerima bantuan beasiswa karena memiliki kartu KIS.

Keluarga ini tidur dalam satu gubuk jadi satu dengan dapur dengan kondisi dua kasur dan tikar yang sudah lusuh. Sementara gubuk mereka juga sudah reot dan pondasinya amblas. Namun Kadek Raun sedikit demi sedikit mulai membangun pondasi rumah sehingga mereka memiliki tempat layak huni.

Dalam keseharian Ni Luh Madri harus ke sekolah lebih pagi sekitar pukul 06.00 karena harus mengayuh sepeda dayung sepanjang 5 km dengan medan yang sangat berat dengan hanya menggunakan satu tangan karena tangan kanannya putung akibat amputasi sewaktu masih duduk di kelas 2 SD.

"Sewaktu saya kelas 2 SD saya jatuh dari pohon singapur sehingga tangannya patah dan membusuk. Orang tua saya tidak punya uang untuk berobat ke dokter jadinya hanya diobati dengan cara tradional,” tutur Madri, Jumat (30/9/2016)

Karena tidak punya biaya berobat dan hanya diobati dengan cara tradisonal sehingga tangannya  harus diamputasi lantaran terus membusuk.

Meskipun tangan kanannya kini putung  tapi Ni Luh Madri tetap semangat menjalani hari-harinya. Bahkan dia dengan kesadaran sendiri membantu orang tuanya yang hanya petani mencari kayu bakar.

Bahkan kayu bakar dicari di seberang bendungan Palasari yang ada di bawah rumahnya dengan mengayuh rakit kayu dengan satu tangan.

"Saya naik rakit sendiri dan sudah biasa. bantu orang tua dua hari sekali mencari kayu bakar ke seberang bendungan. Saya kayuh pake pelepah kelapa," tuturnya.

Di seberang lebih banyak ada kayu bakar. Dia merasa kasihan melihat orang tuanya yang hanya petani apalagi adik-adiknya masih kecil.

Luh Madri mengaku tidak ada kendala dalam menjalani hari-harinya. Bahkan dia bisa berenang meski menggunakan satu tangan. Sehingga dia tidak pernah khawatir jika terjatuh di bendungan yang dalam.

Atas kondisi keluarga tersebut, Kapolres Jembrana AKBP Djoni Widodo tersentuh hatinya. Melalui Wakapolres Kompol AA Rai Laba, Kapolres membantu keluarga ini. Bantuan berupa Dana untuk biaya sekolah dan sembako.

Didampingi Kapolsek Melaya Kompol Ketut Darmita. Bersama Babinkamtibmas dan  Babinsa Ekasari, Kadus Palarejo dan sejumlah relawan Wakapolres mewakili Kapolres Jembrana langsung menuju rumah pasutri tersebut.

"Kami prihatin dengan kondisi siswi dan keluarganya seperti ini. Kami juga salut dengan semangatnya. Jadi mari kita bantu sama-sama," ujar AA Rai Laba, Jumat (30/9/2016)

Wakapolres Jembrana berharap kepedulian antar sesama ditingkatkan dan pihaknya berharap program Jumat Berbagi Polres Jembrana ini bisa berkesinambungan.(KN-2)
Berita Terbaru

Komentar Anda

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi