BI Institute Siapkan Pemimpin Ekonomi Antisipasi Perubahan Global

Selasa, 27 September 2016 : 09.40
Seminar internasional "Neuro-Economic Leadership in VUCA Era" di Nusa Dua (foto:istimewa)
NUSA DUA - Bank Sentral melalui BI Institute menggagas dan mengajak para pemimpin ekonomi di semua tingkatan baik lokal hingga internasional untuk menemukan jenis kepemimpinan yang pas menghadapi era tersebut.

Berkaitan dengan itu, digelarlah seminar internasional guna menyiapkan pemimpin modern yang mampu merespon gejolak ekonomi dan risiko lainnya menggunakan metode "neuroscience".

"Pimpinan dan staf pimpinan harus dilatih bagaimana mengambil keputusan dalam dunia penuh risiko," ujar Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Mirza Adityaswara usai pembukaan seminar internasional "Neuro-Economic Leadership in VUCA Era" di Nusa Dua, Badung, Senin 26 September 2016.

Saat ini, terjadi gejolak perekonomian negara maju seperti di Amerika Serikat dan Eropa yang berimbas ke pasar keuangan.

Karenanya, stabilitas ekonomi dan ujungnya berdampak kepada masyarakat.

Dalam situasi seperti itu, diperlukan calon-calon pemimpin yang lincah merespon tantangan di tengah situasi dunia saat ini disebut Vuca atau rentan terhadap gangguan, tidak pasti, kompleks dan ambigu yang disertai perubahan serba cepat.

Dalam kesempatan sama, Kepala Bank Indonesia Institute, Sugeng, menjelaskan saat ini banyak masalah lahir dari kepemimpinan yang gagal, isu yang menjadi perhatian pada saat pelaksanaan World Economic Forum 2015.

Kata dia, Solusi terkait masalah tersebut bisa diraih dari kualitas dan dedikasi para pemimpin.

"Karena itu seminar ini tidak hanya untuk membangun pandangan tetapi juga membangun karakter dan dedikasi pemimpin terbaik untuk melahirkan manusia yang sejahtera," katanya dalam seminar yang dihadiri utusan dari 25 negara itu.

Diharapkan, seminar dapat ditarik "benang merah" hasil penelitian bidang otak (neuroscience) dengan bidang kepemimpinan yang memunculkan terobosan menghadapi era Vuca.

Ini menjadi momen awal pengembangan potensi otak di Indonesia yang selama ini masih bisa dikembangkan lebih maksimal lagi.

Sejumlah pakar dihadirkan dalam bidang "brainscience" berbasis "neuroleadership" seperti Dr David Rock serta Michael Morgan, petinggi Herman International Asia Pasific.(rhm)
Berita Terbaru

Komentar Anda

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi