Arif B Prasetyo Berbagi Pengalaman Menulis Esai di Bali

Minggu, 25 September 2016 : 06.54
DENPASAR - Arif Bagus Prasetyo Esais yang dikenal sebagai esai dan penerjemah, akan berbagi ilmu dalam lokakarya penulisan esai di Bentara Budaya Bali (BBB), Minggu (25/9/2016).

Rangkaian kelas kreatif dalam bidang penulisan ini telah dimulai sedari bulan Mei 2016.

Diawali lokakarya dasar-dasar jurnalistik oleh wartawan senior, Maria Hartiningsih, kemudian workshop penulisan feature (berita kisah) dan fiksi (cerpen) bersama Putu Fajar Arcana.

Arif yang tulisan-tulisannya telah dimuat di berbagai media ini akan berbagi pengalaman dan teknik-teknika dalam menulis esai.

Penulisan esai rupanya memiliki ciri khas dan pilihan bahasa ungkap yang lebih bebas.

Hal inilah yang membedakannya dengan berita atau karya ilmiah, meskipun sama-sama menghadirkan fakta dan data.

Kebebasan tersebut, selain tecermin dari pemilihan sudut pandang yang memungkinkan adanya unsur pandangan pribadi penulis, juga terlihat dari penggunaan bahasa yang persuasif dan memikat.

Dengan kekuatan khas ini menjadikan esai lebih berpeluang menggugah pembaca karena mampu menangkap sisi mendalam suatu peristiwa sekaligus menawarkan gagasan yang diungkap secara indah dan menyentuh.

Esai tidak berpretensi mengungkapkan suatu kebenaran, tapi terutama menggoda pembacanya untuk merenung ulang hal-hal yang dianggap telah baku atau diterima sebagai kebenaran umum.

Selain sebagai penulis, pria kelahiran Madiun tahun 1971 ini juga merupakan seorang kurator seni rupa.

Alumnus International Writing Program, University of Iowa, Amerika Serikat. Penerima sejumlah penghargaan, antara lain, Hadiah Kritik Seni Rupa dan Hadiah Kritik Sastra dari Dewan Kesenian Jakarta. Karya tulisnya tersebar di berbagai media-massa dan katalog pameran seni rupa nasional dan internasional, serta dipresentasikan dalam berbagai seminar di dalam dan luar negeri.

Sebut saja Amerika Serikat, Singapura, Cina dan Korea Selatan. Bukunya, antara lain, Mahasukka (2000), Melampaui Rupa: Sebingkai Wajah Seni Lukis Indonesia Modern (2001), Epifenomenon: Telaah Sastra Terpilih (2005), Memento: Buku Puisi (2009) dan Memento: Poems (2015).

Kelas Kreatif Bentara dirancang berupa lokakarya atau pembekalan yang berkelanjutan, meliputi; pengenalan mendasar terkait jurnalistik, fotografi, film, penulisan kreatif dan kuratorial. Ini juga adalah sebuah upaya transfer of knowledge atau perluasan kesadaran akan pengetahuan.

“Program Kelas Kreatif ini diselenggarakan secara berkala dengan tujuan mendorong lahirnya para kreator-kreator muda yang lintas bidang serta siap berkolaborasi untuk melahirkan buah cipta yang cemerlang.” ungkap Putu Aryastawa, staf Bentara Budaya Bali. (des)


Berita Terbaru

Komentar Anda

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi