Tingkatkan Perekonomian Desa Adat, Ini Setrategi Menteri Eko

Senin, 08 Agustus 2016 : 07.21
JAKARTA - Indonesia memiliki ragam adat dan budaya yang dipegang erat masyarakat adat karenanya mereka harus sejahtera secara ekonomi agar adat dan budaya dapat terus dilestarikan.

Hal itu disampaikan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Eko Putro Sandjojo saat mengikuti car free day sekaligus pawai budaya bersama masyarakat adat di Jakarta, Minggu 7 Agustus 2016.

Kata Eko, kKementerian desa sudah membentuk Pokja (Kelompok Kerja) masyarakat sipil yang memiliki mandat penguatan masyarakat adat.

JUga, menggalakkan one village one product (satu desa satu produk) agar masyarakat adat di desa dapat mandiri dan mampu secara ekonomi.

Kalau mereka mampu secara ekonomi, mereka akan mampu melestarikan adatnya," ujarnya.

Dijelaskan "one village one product adalah program yang akan mengembangkan satu unggulan dalam satu desa. Sistem ini dipercaya mampu menarik investor untuk berinvestasi mengembangkan ekonomi desa.

"Apa yang dimaksud dengan produk unggulan, adalah economic of skill. Kita bisa tarik investor datang ke situ. Kalau produksi produk unggulan fokus dan dalam skala besar, investor akan senang, tapi kalau skala kecil investor akan berat untuk berinvestasi," tutur dia.

Masyarakat adat adalah bagian penting dari komponen negara. Ada sekitar 70 juta orang masyarakat adat, yang jika diberdayakan, akan menjadi potensi yang sangat besar.

Terkait hal tersebut, Kemendes PDTT telah membentuk Kelompok Kerja (Pokja) masyarakat sipil, di mana salah satu mandatnya adalah untuk penguatan masyarakat adat.

"Desa-desa kita ini unik, dan masing-masing memiliki karakter yang berbeda. Ada desa yang berpotensi menjadi desa wisata melalui adat dan budayanya,  jangan sampai kita salah kasih program," ucapnya.

Yang menjadi penghambat saat ini adalah kesulitan desa dalam mensosialisasikan produk-produk unggulannya.

Untuk itu, semua pihak harus menjalin kerjasama dengan kementerian-kementerian lain, pengusaha juga. Pengusaha bisa bantu lewat CSR-nya.

selain CSR, sambung Eko, desa-desa kita juga butuh transfer knowledge (pengetahuan), terutama di bidang manajemen. (wan)
Berita Terbaru

Komentar Anda

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi