Pernah Berjuang Bersama, Aktivis Gendo Bantah Hina Pospera

Selasa, 16 Agustus 2016 : 19.20
Tim kuasa hukum Waayan Gendo Suardana beri keterangan pers (foto:istimewa)
DENPASAR - Aktivis Wayan Gendo Suardana membantah telah melakukan penghinaan terhadap Posko Perjuangan Rakyat (Pospera) sebagai organisasi yang pernah menjadi naungan bersama para aktivis 1998 dalam memperjuangkan melawan rezim orde baru.

Bantahan Gendo disampaikan lewat kuasa hukumnya, Made Suardana menanggapi pelaporan Posko Perjuangan Rakyat (Pospera) ke Mabes Polri.

Dalam laporannya, Gendo disangka menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian dan permusuhan sebagaimana dimaksud pasal 28 ayat 2 UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE dan atau pasal 16 UU Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Ras dan Etnis‎.

Kasus yang menyeret Gendo dan koleganya di Pospera itu, berpangkal pada kicauan Gendo di Twitter yang dinilai menebar ujaran kebencian dengan menggunakan isu SARA sehingga dilaporkan ke jalur hukum termasuk oleh DPD Pospera Bali.

Lewat akun pribadinya, Wayan GENDO S #BEJO, Gendo menuliskan status "Ah, muncul lagi akun2 bot asuhan pembina pos pemeras rakyat si napitufulus sok bela2 susi. Tunjukin muka jelek mu nyet‎," kicau Gendo.

Ssaat menulis kata-kata di Twitter, kata Suardana, kliennya tidak sedang melakukan penghinaan terhadap Pospera.

Dia sendiri aktivis 98 yang pada masa lalu melakukan pergerakan melawan rezim Orde Baru di bawah bendera Pospera.

"Tidak mungkin dia melakukan penghinaan terhadap organisasinya sendiri yang pernah dinaunginya," ucap Suardana ketika memberikan keterangan resminya kepada wartawan, Selasa (16/8/2016).

Dalam pergerakannya, Gendo tidak pernah menyinggung unsur SARA seperti disampaikan Pospera. Gendo tak memiliki masalah dengan etnis Batak.

‎Kata Suardana, Gendo tidak memiliki latar belakang permusuhan dengan orang Batak. Tindakan yang dilakukan semata berkaitan reklamasi Teluk Benoa, tidak ada hubungan dengan perlawanan etnis tertentu.

Twitter, sebagai media komunikasi sosial memiliki keterbatasan dalam penulisan kalimat.

Jadi, Ketika penulisan muncul, mereka yang menerima tulisan tidak bisa menjustifikasi tanpa meminta klarifikasi terhadap tulisan itu.

"Kecuali menyasar subjek hukum, badan hukum, instansi dan lainnya. Kalau ditulis bahasa kiasan, lalu ditafsirkan penghinaan, ini repot," sambungnya.

Terkait, kalimat 'pos pemeras rakyat' dalam cuitan Gendo, bukan ditujukan kepada ‎perorangan maupun organisasi Pospera, melainkan kepada aliansi, lembaga, instansi atau siapapun yang memeras kekayaan alam milik rakyat.

Sedangkan kata 'pembina' di depan kalimat 'pos pemeras rakyat' tidak ditujukan kepada Adian Napitupulu yang menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina Pospera.

Suardana berargumen, kata pembina adalah mereka yang memiliki tindakan langsung terhadap kerugian alam dengan melakukan pemerasan terhadap alam.

"Pembina bisa jadi pemimpin dan dalam cuitan Gendo di Twitter yang dipermasalahkan itu tidak ditujukan kepada siapapun," katanya menegaskan.

Pihaknya juga menegaskam, bahwa bahasa napitufulus tidak berhubungan dengan etnis Batak.

Gaya bahasa saja. Fulus adalah uang, perang terhadap Rp1 triliun yang dikeluarkan oleh investor reklamasi Teluk Benoa.

"Napi itu artinya penjahat, tu (to dalam bahasa Inggris)  itu artinya kepada. Jadi napitufulus itu artinya adalah orang jahat atau kejahatan terhadap alam untuk mengeruk uang. Tidak ada kaitan dengan Adian Napitupulu," dalih dia.

Di pihak lain, Suardana bersama 30 pengacara yang tergabung membela Gendo tengah mengkaji kemungkinan melakukan pembelaan terhadap kliennya seperti mempertimbangkan pelaporan balik akun-akun pribadi oknum Pospera yang secara tegas melakukan penghinaan terhadap Gendo. (rhm)

Berita Terbaru

Komentar Anda

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi