Kegigihan dan Kesetiaan Andayani Dampingi Serda Sutopo di Kodim Demak

Kamis, 11 Agustus 2016 : 11.00
DEMAK - Eny Andayani (43), istri Serda Sutopo anggota koramil 02 Bonang Kodim 0716 Demak Jawa tengah memiliki kegigihan dan kesabaran yang patut dicontoh dalam nya mendampingi suami, putra dan putrinya agar tumbuh sehat dan mendapatkan pendidikan layak.

Menjadi ibu dari anak dengan kebutuhan khusus tidaklah mudah. Orang-orang berjiwa besar lah yang akan terus berjuang agar anak-anak mereka tumbuh menjadi anak-anak layaknya anak-anak normal lainnya, meraih kesuksesan dan hidup mandiri.

Kebahagiaan sang anak merupakan kebahagiaan untuk seorang ibu. Karenanya, dengan segala cara ia akan melakukan dan memberikan semua yang terbaik untuk anak-anaknya.

Selain merawat, mendidik, dan memenuhi semua kebutuhan anaknya, seorang ibu pun rela banting tulang demi memenuhi apa yang anaknya inginkan.

Demi masa depan anak-anaknya yang cerah, ia akan melakukan apapun termasuk melakukan pekerjaan yang semestinya tidak ia lakukan.

Eny, perempuan tinggal di Asrama Militer Kodim Demak diberikan keturunan memiliki dua buah hati satu perempuan Aprillia Bella Setyani (18) dan Dony Rizki Kurniawan (15).

Keluarga ini diberikan ujian karena anak laki laki mengalami gangguan keterbelakangan mental (tunagrahita). Ia tak pernah bermimpi dirinya bisa seketika ”terpental” begitu saja dari kehidupan normalnya.

Masih banyak orang yang memandang dan melirik aneh bila bertemu seorang anak tunagrahita.

Pikiran dan bayangan aneh seolah tertumpu pada mereka (seorang anak grahita). Alih-alih bukan rasa simpatik dan rasa peduli yang menyapa, malah sebaliknya justru ejekan, cemooh, bahkah hinaan diarahkan pada mereka (seorang anak tunagrahita), dari mulut orang-orang yang mengaku dirinya “manusia normal”.

Eny lantas tersenyum sambil memeluk erat Dony,anak usia lima belas tahun yang hidup dengan sindrom Attention Deficit Hyperactivty Disorder (ADHD).

Salah satu spektrum dalam Tunagrahita atau gangguan perkembangan dalam peningakatan aktivitas motorik anak hingga menyebabkan aktivitas anak yang tidak lazim dan cenderung berlebihan.

Perjuangan Eny bersama Serda Sutopo sudah dimulai sejak delapan belas tahun lalu. Eny nyaris kehilangan nyawanya, akibat pendarahan hebat saat melahirkan Dony, yang baru berusia tujuh bulan dalam kandungan.

Untuk semuanya itu dalam mencukupi kebutuhan sehari hari maupun kebutuhan khusus Dony,anggota persit Kartika Candra Kirana Ranting 03 Bonang ini harus banting tulang untuk membantu mencari kebutuhan karena dari mengandalkan gaji saja tidak mencukupi kebutuhan Dony yang mengalami gangguan tersebut.

Sejak Dony lahir dan mengalami keterbelakangan mental, Eny harus membantu suaminya menjadi perempuan tangguh yang harus berjuang membesarkan kedua anaknya.

Pekerjaan apapun dilakukan, bahkan jualan es dan tahu pedas pun ia lakukan walaupun dengan keuntungan  tak seberapa agar kebutuhan keluarganya tetap bisa mencukupi.

Bermodal keberanian, dia nekat berjualan apa saja yang penting ada peluang dan kesempatan asalkan halal dia lakukan. Dia cukup gigih dalam mencari nafkah terlihat dari berjualan apa saja baik jual perabot rumah tangga ,mebel,kreditan dan masih banyak lagi yang ia bisniskan dalam mencari keuntungan tersebut.

Tiap pagi di bantu suaminya di membuat tahu pedas untuk di jajakan dari warung langganannya, tak kurang dari 50 paket tahu pedas matang dijualnya sejak pukul 05.00. Satu bungkus hanya dihargainya Rp 3.000.

Namun, kalau sampai pukul 11.00 dagangannya tak habis, Eny mulai berkeliling ke warung yang satu ke warung lain berharap ada yang mau membeli tahu pedas matang masakannya.

"Kalau enggak habis juga, baru dibawa pulang. Yang penting, usaha dulu," tutur Eny.

Penghasilan dari usaha ini cukup lumayan, dia bisa mendapat Rp150 ribu/hari. Uang itu digunakannya kembali untuk modal jualan keesokan harinya dan sisanya untuk biaya

Untuk pengobatan Dony yang saat ini masih terapi yang mengeluarkan biaya cukup lumayan untuk setiap minggunya. Eny mengaku usaha ini dilakoninya sejak 2002 silam.

Dia semakin giat menjalani usahanya ini terlebih sejak Dony lahir dan mengalami gangguan tunagrahita tahun lalu dan sang suami tidak punya biaya lagi untuk mencukupi kebutuhannya itu.

Statusnya sebagai anggota persit memaksa Eny tidak hanya berpangku tangan sebagai ibu rumah tangga. Sejak saat itu, dia harus banting tulang membantu suaminya membesarkan dan menyekolahkan anak-anaknya.

"Saya tidak boleh menyerah. Saya dan suami harus kerja menghidupi keluarga. Bagaimana saya bisa menyekolahkan anak sampai tamat kalau tidak bekerja," ujar ibu dua orang anak itu.

Kerasnya hidup tak pernah membuatnya menyerah. Apalagi, baru-baru ini dia mendapat musibah kemalingan, beberapa barang berharganya hilang. "Mau diapain lagi, toh barangnya sudah dicuri. Saya mah pasrah dan ikhlas saja," kata tegar.

Eny mengaku akan terus berjualan demi hidupnya dan anak-anaknya. Eny ingin anak-anaknya bisa sekolah agar masa depan anak-anaknya bisa lebih baik.

"Selagi saya masih kuat, ya saya masih akan terus berjualan. Kalau enggak ngandalin diri sendiri, kepada siapa saya mau bergantung. Saya enggak mau ngerepotin anak-anak," ujar dia.

Cacian dan makian tak membuat beliau menyerah mencari nafkah,meskipun dia tau kadang ada keputusasaan dalam sorot matanya, ada tangis dalam malam-malam panjangnya.

Apalagi saat Dony mulai masuk sekolah luar biasa (SLB) dan kakaknya yang sudah memasuki masa kuliah, semakin beratlah beban di pundaknya. Tetapi itu tidak lantas membuatnya menghentikan langkahnya untuk maju. (des)
Berita Terbaru

Komentar Anda

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi