Hidayat Nur Wahid Ajak Warga Muslim Bali Gandeng Umat Lain

Jumat, 12 Agustus 2016 : 07.08
Ketua MPR Hidayat Nur Wahid bertemu dengan tokoh agama dan masyarakat Muslim Bali (foto:Kabarnusa)
DENPASAR - Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Hidayat Nur Wahid mengharapkan umat muslim bergandengan tangan dengan umat lainnya di Bali membangun kebersamaan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)

Hal itu disampaikan Hidayat saat bertatap muka dengan para tokoh agama dan organisasi sosial kemasyarakatan Islam di Denpasar Bali Kamis 11 Agustsu 216.

Menurutnya, sejatinya Indonesia lahir atas kebersamaan yang dibangun antar umat tanpa melihat perbedaan.

Kelahiran Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) kala itu, misalnya, juga dibidani para tokoh lintas agama dan berbagai organisasi dan komunitas saat itu seperti Muhammadiyah, NU dan lainnya.

"Semua berkiprah untuk Indonesia hingga mampu meraih kemerdekaan," tandas politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu.

Semangat kebersamaan para pendahulu pendiri bangsa itu, lanjut Hidayat sangat penting diperkokoh dilanjutkan oleh generasi selanjutnya hingga saat ini.

Hanya dengan kebersamaan tanpa memandang perbedaan agama, ras suku dan golongan ataupu organisasi lainnya, NKRI bisa langgeng dan Bhineka Tunggal Ika bukan sebatas semboyan lagi.

"Inilah modal kita, sekaligus menantang kita untuk bagaimana tetap menjaga kebersamaan di masyarakat maupun di lembaga pemerintahan, politik, DPR pusat hinga provinsi dan kabupaten kota," sambungnya.

Umat Islam di Bali, diingatkan akan sejarah kenabian Muhammad baik sebelum menjadi Rosul maupun setelah menjadi utusan Allah di Madinah.

"Islam itu luas, bisa diterima komunitas lainnya, sebagai contoh Piagam Madinah yang merupakan piagam politik tertua," tutur mantan Presiden PKS itu.

Piagam Madinah itu menggambarkan, bahwa Islam bisa menjaga berbagai komunitas, merawat kebhinekaan bahkan bersatu dengan umat lain seperti kaum Yahudi.

"Umat Islam bersatu dengan umat lain, saat itu untuk mempertahankan kota Madinah," tutur Hidayat menegaskan.

Baik ketika menjadi minoritas maupun ketika mayoritas Rasulallah mengalang kebersamaan bahkan berkoalisi dengan umat lain seperti kaum Quraisy lainnya, untuk melawan kezaliman sepeti kaum pedagang curang di Makkah.

"Koalisi dalam menegakkan hukum dan kebanaran, melawan kezaliman," demikian Hidayat.

Pertemuan dihadiri para tokoh NU dan Muhammadiyah hinga Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) seperti KH Hasan Ali (penasihat MUI Bali), Taufik As'ad (Ketua MUI Bali), Maman Supratman (Ketua IPHI Bali) H Ketut Jamal (KAHMI). (rhm)
Berita Terbaru

Komentar Anda

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi