HAMI: Pembunuhan Balita di Karangasem Jadi Pertaruhan Kredibilitas Kepolisian

Minggu, 21 Agustus 2016 : 18.38
Aktivis Tim Perlindungan Perempuan dan Anak HAMI Bali Ida I Dewa Ayu Dwi Yanti (foto:istimewa)
DENPASAR - Aktivis Tim Perlindungan Perempuan dan Anak HAMI Bali Ida I Dewa Ayu Dwi Yanti  menilai kasus kematian kematian KCD seorang balita perempuan di Karangasem menjadi pertaruhan kredibiltas kepolisian.

Dia menyayangkan, mandeg dan lambatnya penanganan kasus tersebut oleh Polsek Sideman Karangasem.

Diketahui, KCD bocah berusia 1,3 tahun asal Banjar Iseh, desa Iseh, Kecamatan Sidemen, Karangasem tewas secara tidak wajar diduga kuat korban pembunuhan lantaran terdapat luka di tubuh dan bibir.

Ia ditemukan tak bernyawa di gorong-gorong yang berjarak sekitar 500 meter dari rumah kakek yang mengasuhnya pada 20 Januari 2015.

Hanya saja, Sudah 1,5 tahun pengungkapan kasus itu, satupun terduga pelaku pembunuhan yang ditetapkan sebagai tersangka.

Karenanya, kata Yanti, HAMI (Himpunan Advokat Muda Indonesia ) Bali juga mendesak Polres Karangasem dan Polsek Sideman serius mendalami bukti-bukti petunjuk untuk mengungkap tuntas kasus tersebut.

"Bukti petunjuk itu seperti, ada orang yang tidak memperbolehkan masuk ke dalam rumahnya (NS). Hal ini patut diperdalam," katanya akhir pekan ini.

Juga, ada orang yang mencurigakan dengan berlumur lumpur dan ada bekas darah di badannya dan lari ke arah bukit untuk sembunyi, juga harus diperdalam kembali.

Selain itu, ada bukti petunjuk SMS yang diterima ibu korban dari dari seseorang yang bernama Darma, yang berisi permintaan maaf.

"Itu juga harus diperdalam. HAMI meminta agar kepolisian bertindak profesional, dalam prinsip due prosess of law (bertindak berdasarkan atas hukum) serta melakukan lidik dan sidik secara ilmiah," tegasnya.

Dia mengingatkan, bahwa kasus ini telah menjadi perhatian publik.

"Di sini kredibilitas dan profesionalisme Kepolisian kembali diuji. Masyarakat merindukan kehadiran Polisi yang menjadi jembatan keadilan bagi semua tanpa terkecuali, terlebih bagi rakyat kecil dan termarginalkan," tukas Yanti.

Sebelumnya, Kapolres Karangasem mengakui, ada lima terduga pelaku pembunuhan KCD, namun tak satupun yang bisa ditetapkan sebagai tersangaka selama 1,5 tahun pengungkapan kasus tersebut. Alasannya, belum cukup alat bukti. (gek)
Berita Terbaru

Komentar Anda

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi