Produktivitas Klaster Padi Organik Binaan BI di Bali Meningkat

Sabtu, 14 Mei 2016 : 08.32
Kabarnusa.com - Pada penen tahap kedua klaster padi binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali di Subak Pulagan Kecamatan Tampaksiring Kabupaten Gianyar hasilnya diketahui meningkat.

Hasil produksi klaster padi binaan BI bekerjasama dengan Pemkab Gianyar dan Kodim dan Polsek Gianyar itu, rata-rata mencapai 9,19 ton perhekar sesuai dengan hasil ubinan yang dilakukan.

Diketahui. beras sehat yang dikembangkan di salah satu warisan budaya dunia itu, merupakan program percontohan pertanian ramah lingkungan dengan areal tanam seluas 13,8 hektar yang dikerjakan 58 petani.

Dalam sistem ini, perlakuan organik metode SRI dengan pola jajar legowo 2:1 pada panen tahap kedua ini meningkat dari panen tahap pertama atau sebelumnya.

"Pada panen tahap pertama rata-rata yang dihasilkan sebesar 8,7 ton perhektar," kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Dewi Setyowati Jumat 13 Mei 2016.

Rata-rata panen padi yang dihasilkan, sebelum dibina Bank Indonesia hanya mencapai 5,4 ton perhektar. Setelah dilakukan pembinaan secara intensif oleh BI, produksi panen padinya terdongkrak hingga 8,7 perse perhektar.

"Ada kenaikan 3,3 ton perhektar untuk pertama kalinya," sebut Dewi.

Hal itu membuktikan bahwa penanaman padi tanpa penggunaan obat-obat kimiawi dapat menghasilkan peningkatan produksi.

Dengan begitu, petani sudah bisa merasakan bahwa biaya yang dikeluarkan untuk menanam padi semakin berkurang atau bisa ditekan berkat mandirinya petani dalam membuat pupuk organik.

Petani secara masif telah membuat pupuk organik baik padat maupun cair dan pestisida nabati dengan teknolog MA 11 (micro bacter alfata).

Kondisi itu, membuat petani bisa meningkat pendapatan mereka dan dengan komitmennya itu telah membantu mengembalikan unsur kesehatan tanah.

"Kami telah mengembangkan program ketahanan pangan di Bali pada tahun 2016, dengan membuat 13 demplot dan klaster di enam kabupaten," papar Dewi.

Adapun komoditi yang dikembangkan adalah kopi, bawang merah, cabe merah, padi dan pengembangan sapi Bali.

Semua pola yang dikembangkan mengarah pada pertanian organik dengan budidaya yang dilakukan secara berkelanjutan.

"Dengan pengembangan komditi pangan yang mempengaruhi inflasi di bali diharapkan hasilnya bisa mendukung ketersediaan komoditi pangan dan menekan gejolak volatile food sebagai pemicu inflasi," sambungnya.

BI juga mengembangkan sektor pertanian untuk perkotaan dengan memanfaatkan lahan sempit atau urban farming/

Dikatakan urban farming itu, menyasar 3 kabupaten di Bali melibatkan ibu-ibu penggerak PKK seperti di Lembaga Pemasyarakatan Gianyar.

"Para narapidana di sana dilatih memanfaatkan lahan sempit di sekitar Lapas, untuk menghasilka sayur sayuran bernilai ekonomis," tutupnya. (rhm)










Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi